KEBUDAYAAN BANJAR
SAUNA ALA SPA VERSI TRADISI BATIMUNG
Suatu tradisi bisa dikatakan sebagai sarana untuk meminimalisasikan suatu kebiasaan yang turun-temurun ke arah yang lebih modern. Seperti juga tradisi batimung yang dalam versi tradisionilnya tak kalah dengan sauna ala spa persi modern. Meski sederhana, adat masyarakat Banjar, Kal-Sel ternyata tidak jauh beda denga sauna ala spa di salon. Fungsinya sama yakni sama-sama membuang keringat dari badan, melalui pengasapan di seluruh tubuh. Yang berbeda yakni dari segi tata cara serta peralatan yang digunakan baik yang masih tradisionil maupun yang sudah menggunakan teknologi modern. Duluanya tradisi batimung itu dilaksanakan bagi calon mempelai wanita ataupun pria pada malam sebelum acara pernikahan. Akan tetapi tradisi tersebut sudah mengalami pergeseran dari bukan saja tradisi sebelum malam pernikahan akan tetapi semua orang bisa melakukannya guna berbagai kepentingan atau mengambil manfaat dari batimung tersebut. Selain seluruh tubuh akan menjadi wangi karena campuran rempah-rempah, serta bunga-bungaan yang wangi, batimung juga mempunyai manfaat untuk menyehatkan. Badan akan terasa lebih segar dan pegal-pegal akan berangsur-angsur hilang, organ intimpun mendapat faedahnya. Batimung memakai cara konvensional yang masih menggunakan tungku, sementara cara yang agak modern cukup dengan kompor sementara uap yang dialirkan melalui selang besar yang ditaruh di bawah tubuh. Cara yang lebih modern lagi yakni dengan sauna ala spa di salon. Dari segi kepraktisan memang sauna lebih unggul tapi dari segi biaya juga akan lebih mahal. Siapa yang tidak punya uang tidak bisa spa. Kelebihan batimung sendiri adalah tetap terjaganya nilai-nilai suatu kebersamaan dan rasa kekeluargaan yang akan melekat erat di masyarakat. Apa sebabnya, karena acara batimung dilaksanakan pada malam hari, oleh para wanita dari keluarga orang batimung. Berbeda kalau kita ke salon, tidak ada nilai kebersamaan karena kita mendapat pelayanan dengan membayar . Ada uang tentu baru ada pelayanan. Khasiat dari batimung sangat luar biasa. Satu kali batimung, biasanya aroma wangi itu akan habis dalam dua sampai tiga hari. Proses batimung dilakukan dengan cara badan dibedaki dengan wadak yang terdiri dari (mangir wangi terbuat dari beras kencur ditambah dengan bahan alami lainnya yang mengandung wangi-wangian), sampai bersih dan harum sehingga segala kotoran yang melekat ditubuh hilang. Membedaki dilakukan oleh para wanita yang ditugaskan. Setelah selesai di wadak calon pengantin disuruh duduk di atas sebuah bangku yang rendah disebut dedampar, kemudian segala pakaian yang melekat menanggalkan diganti dengan tikar purun serta selimut tebal beberapa lapis sampai menutupi ke atas kepala kecuali muka dan hidung. Selesai diselimuti, barulah ramuan mendidih yang terdiri dari rebusan pudak atau pandan wangi, tamu giring, limau purut, kulit bawang merah, santan, kayu manis, menyan, daun sop, pucuk banti, mang soe sebangsa akar, bunga akar, biasanya ditambah dengan daun serai wangi, kunyit, tamulawak, lengkuas, serta bunga mawar, kenanga, cempaka dan melati. Semua bahan tersebut dipotong kecil-kecil lantas direbus dalam kuali tanah atau panci. Tutupnya dijaga agar asapnya tidak keluar. Setelah ramuan tadi mendidih lalu diletakkan di bawah dadampar. Tutup kuali dibuka perlahan-lahan sehingga uap harum bisa keluar dan membasahi seluruh tubuh. Dilihat dari prosesnya batimung masih sangat tradisionil dibandingkan sauna di salon-salon besar. Akan tetapi dari segi kuantitas serta kualitasnya dari batimung tidak kalah dengan sauna ala spa di salon. Nilai tradisi dari batimung lah yang menjadi pokok yang perlu dipertahankan dan dilestarikan khususnya bagi masyarakat banjar. Apalagi di era yang makin canggih ini jangan sampai menenggelamkan adat batimung dengan sauna yang lebih modern dan menghilangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.